INSTRUMEN
EVALUASI PEMBELAJARAN
Dalam pendidikan terdapat bermacam-macam instrument atau
alat evaluasi yang dapat dipergunakan untuk menilai proses dan hasil pendidikan
yang telah dilakukan terhadap anak didk. Instumen evaluasi itu dapat
digolongkan menjadi dua yakni, tes dengan nontes yang lebih lanjut akan
dipaparkan dibawah ini.
A. Tes Sebagai
Alat Penilaian Hasil Belajar
Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk
lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), dan dalam bentuk
perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur
hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan
penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidkan dan pengajaran.
Ada 2 jenis tes yakni tes uraian (subjektif) dan tes
objektif. Tes uraian terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian
terstruktur. Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk
pilihan benar salah, pilihan ganda dengan banyak variasi, menjodohkan, dan
isian pendek atau melengkapi.
1. Tes Uraian
(tes subjektif)
Tes Uraian, yang dalam uraian disebut juga essay, merupakan
alat penilaian yang hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini
adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan,
menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain
yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan
bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam
mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
Sejak tahun 1960-an bentuk tes ini banyak ditinggalkan
orang karena munculnya tes objektif. Bahkan sampai saat ini tes objektif sangat
populer dan digunakan oleh hampir semua guru mulai dari tingkat SD sampai di
perguruan tinggi. Namun ada semacam kecenderungan dikalangan para pendidik dan
guru untuk kembali menggunakan tes uraian sebagai alat penilaian hasil belajar,
terutama di perguruan tinggi, disebabkan oleh beberapa hal antara lain;Adanya
gejala menurunnya hasil belajar atau kualitas pendidikan di perguruan tinggi
yang salahsatu diantaranya berkenaan dengan penggunaan tes objektif,
· Lemahnya
para mahasiswa dalam menggunakan bahasa tulisan sebagai akibat penggunaan tes objektif yang berlebihan
2. Tes objektif
Merupakan tes yang cara pemeriksaannya dapat dilakukan
secara objektif yang dilakukan dengan cara mencocokkan kunci jawaban dengan
hasil jawaban testi. hal ini memungkinkan testi untuk menjawab banyak
pertanyaan dalam waktu yang relatif singkat.
1.. Tes Objektif Pilihan Ganda
Item tes pilihan ganda merupakan jenis tes objektif yang
paling banyak digunakan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang
luas dengan tingkat domain yang bervariasi. Item tes pilihan ganda memiliki
semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi ojektivitas,
reliabilitas, dan daya pembeda anatara siswa yang berhasil dengan siswa yang
gagal (Sukardi, 2008)
2. Tes Objektif Banar Salah
Item tes benar-salah dibedakan menjadi dua macam bentuk
yaitu, item tes bentuk regular atau tidak dimodifikasi dan item tes bentuk
modifikasi. Dibidang pendidikan umum maupun kejuruan, item tes benar salah yang
tidak dimodifikasi atau regular banyak digunakan oleh para guru. Salah satu
alasannya adalah bahwa item tes benar salah jenis regular dapat digunakan dalam
proses belajar mengajar sebagai tehnik
untuk mengawali dimulainya diskusi yang hangat, menarik dan bermakna. Item tes
betul salah apabila dicermati secara intensif , akan membawa peserta didik
kedalam diskusi isu-isu pembelajaran yang bergeser sedikit menjadi problem
solving (Sukardi, 2008).
3. Tes Objektif Menjodohkan
Item tes menjodohkan sering juga disebut matching test
item. Item tes menjodohkan ini juga termasuk dalam kelompok tes objektif.
Secara fisik , bentuk item tes menjodohkan, terdiri atas dua kolom yang
sejajar. Pada kolom pertama berisi pernyataan yang disebut daftar stimulus dan
kolom kedua berisi kata atau fakta yang disebut juga daftar respon atau jawaban
(Sukardi, 2008).
B. NONTES SEBAGAI ALAT PENILAIAN HASIL DAN PROSES BELAJAR
MENGAJAR
Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh
tes, tetapi dapat juga dinilai olah alat-alat nontes atau bukan tes. Berikut
ini dijelaskan alat-alat non - tes:
1. Wawancara dan
kuisioner
a. Wawancara
Wawancara merupakan suatu cara yang digunakan untuk
mendapatkan informasi dari siswa dengan melakukan Tanya jawaab sepihak.
Kelebihan wawancara adalah biasa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat
mengungkapkan jawaban lebih bebas dan mendalam. Wawancara dapat direkam
sehingga jawaban siswa bisa dicatat secara lengkap. Melalui wawancara, data
bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak
jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi, begitupun dengan jawaban yang belun
jelas.Kuisioner adalah suatu tekhnik pengumpulan informasi yang memungkinkan
analisis mempelajari sikap – sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik dari
siswa.
Kelebihan kuesiner dari wawancara ialah sipatnya yang
praktis, hemat waktu tenaga dan biaya. Kelemahannya ialah jawaban sering tidak
objektif,lebih-lebih bila pertanyaannya kurang tajam yang memungkinkan siswa
berpura-pura.
Cara penyampain kuesiner ada yang langsung di bagikan
kepada siswa yang telah diisi lalu di kumpulkan lagi. Alternatif jawaban yang
ada dalam kuisiner bisa juga di trasformasikan dalam bentuk symbol kuantitatif
agar menghasilkan data interval. Caranya adalah dengan memberi skor terhadap
setiap jawaban berdasarkan criteria tertentu.
2. Skala
Skala adalah alat untuk mengukur sikap , nilai, minat dan
perhatian, dll. Yang disusun dalam bentuk
pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk
rentangan nilai sesuatu dengan criteria yang ditentukan.
a. Skala
Penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau prilaku orang lain
oleh seseorang melalui pernyataan prilaku individu pada suatu titik yang bermakna nilai. Titik
atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang
terendah, bias daalam bentuk huruf atau angka. Hal yang penting diperhatikan
dalam skala penilaian adalah criteria skala nilai, yakni penjelasan operasional
untuk setiap alternative jawaban. Adanya criteria yang jelas akan mempermudah
pemberian penilaian.
Skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu
proses, misalnya proses mengajar pada guru, siswa, atau hasil belajar dalam
bentuk prilaku seperti keterampilan, hubunagan social siswa, dan cara
memecahkan masalah. Skala penilaian
dalam pelaksanaannya dapat digunakan oleh dua
orang penilai atau lebih dalam menilai subject yang sama. Maksudnya agar
diperoleh hasil penilaian yang objektif
mengenai prilaku subject yang dinilai.
A. INSTRUMEN EVALUASI PEMBELAJARAN
Dalam pendidikan terdapat bermacam-macam instrument atau
alat evaluasi yang dapat dipergunakan untuk menilai proses dan hasil pendidikan
yang telah dilakukan terhadap anak didk. Instumen evaluasi itu dapat
digolongkan menjadi dua yakni, tes dengan nontes yang lebih lanjut akan
dipaparkan dibawah ini.
A. Tes Sebagai
Alat Penilaian Hasil Belajar
Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk
lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), dan dalam bentuk
perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur
hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan
penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidkan dan pengajaran.
Ada 2 jenis tes yakni tes uraian (subjektif) dan tes
objektif. Tes uraian terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian
terstruktur. Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk
pilihan benar salah, pilihan ganda dengan banyak variasi, menjodohkan, dan
isian pendek atau melengkapi.
1. Tes Uraian
(tes subjektif)
Tes Uraian, yang dalam uraian disebut juga essay, merupakan
alat penilaian yang hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini
adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan,
menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain
yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan
bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam
mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
Sejak tahun 1960-an bentuk tes ini banyak ditinggalkan
orang karena munculnya tes objektif. Bahkan sampai saat ini tes objektif sangat
populer dan digunakan oleh hampir semua guru mulai dari tingkat SD sampai di
perguruan tinggi. Namun ada semacam kecenderungan dikalangan para pendidik dan
guru untuk kembali menggunakan tes uraian sebagai alat penilaian hasil belajar,
terutama di perguruan tinggi, disebabkan oleh beberapa hal antara lain;Adanya
gejala menurunnya hasil belajar atau kualitas pendidikan di perguruan tinggi
yang salahsatu diantaranya berkenaan dengan penggunaan tes objektif,
· Lemahnya
para mahasiswa dalam menggunakan bahasa tulisan sebagai akibat penggunaan tes objektif yang berlebihan
Tes Objektif
Merupakan tes yang cara pemeriksaannya dapat dilakukan
secara objektif yang dilakukan dengan cara mencocokkan kunci jawaban dengan
hasil jawaban testi. hal ini memungkinkan testi untuk menjawab banyak pertanyaan
dalam waktu yang relatif singkat.
2. Ada beberapa jenis tes objektif
1.. Tes Objektif Pilihan Ganda
Item tes pilihan ganda merupakan jenis tes objektif yang
paling banyak digunakan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang
luas dengan tingkat domain yang bervariasi. Item tes pilihan ganda memiliki
semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi ojektivitas,
reliabilitas, dan daya pembeda anatara siswa yang berhasil dengan siswa yang
gagal (Sukardi, 2008)
2. Tes Objektif Banar Salah
Item tes benar-salah dibedakan menjadi dua macam bentuk
yaitu, item tes bentuk regular atau tidak dimodifikasi dan item tes bentuk
modifikasi. Dibidang pendidikan umum maupun kejuruan, item tes benar salah yang
tidak dimodifikasi atau regular banyak digunakan oleh para guru. Salah satu
alasannya adalah bahwa item tes benar salah jenis regular dapat digunakan dalam
proses belajar mengajar sebagai tehnik
untuk mengawali dimulainya diskusi yang hangat, menarik dan bermakna. Item tes
betul salah apabila dicermati secara intensif , akan membawa peserta didik
kedalam diskusi isu-isu pembelajaran yang bergeser sedikit menjadi problem
solving (Sukardi, 2008).
3. Tes Objektif Menjodohkan
Item tes menjodohkan sering juga disebut matching test item.
Item tes menjodohkan ini juga termasuk dalam kelompok tes objektif. Secara
fisik , bentuk item tes menjodohkan, terdiri atas dua kolom yang sejajar. Pada
kolom pertama berisi pernyataan yang disebut daftar stimulus dan kolom kedua
berisi kata atau fakta yang disebut juga daftar respon atau jawaban (Sukardi,
2008).
B. NONTES SEBAGAI ALAT PENILAIAN HASIL DAN PROSES BELAJAR
MENGAJAR
Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh
tes, tetapi dapat juga dinilai olah alat-alat nontes atau bukan tes. Berikut
ini dijelaskan alat-alat non - tes:
1. Wawancara dan
kuisioner
a. Wawancara
Wawancara merupakan suatu cara yang digunakan untuk
mendapatkan informasi dari siswa dengan melakukan Tanya jawaab sepihak.
Kelebihan wawancara adalah biasa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat
mengungkapkan jawaban lebih bebas dan mendalam. Wawancara dapat direkam
sehingga jawaban siswa bisa dicatat secara lengkap. Melalui wawancara, data
bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak
jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi, begitupun dengan jawaban yang belun
jelas.Kuisioner adalah suatu tekhnik pengumpulan informasi yang memungkinkan
analisis mempelajari sikap – sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik dari
siswa.
Kelebihan kuesiner dari wawancara ialah sipatnya yang
praktis, hemat waktu tenaga dan biaya. Kelemahannya ialah jawaban sering tidak
objektif,lebih-lebih bila pertanyaannya kurang tajam yang memungkinkan siswa
berpura-pura.
Cara penyampain kuesiner ada yang langsung di bagikan
kepada siswa yang telah diisi lalu di kumpulkan lagi. Alternatif jawaban yang ada
dalam kuisiner bisa juga di trasformasikan dalam bentuk symbol kuantitatif agar
menghasilkan data interval. Caranya adalah dengan memberi skor terhadap setiap
jawaban berdasarkan criteria tertentu.
b. Observasi
Secara garis besar terdapat dua rumusan tentang pengertian
observasi, yaitu pengertian secara semmpit dan luas. Dalam arti sempit,
observasi berarti pengamatan secara langsung terhadap apa yang diteliti, Dalam
arti luas observasi meliputi pengamatan yang dilakukan secara langsungmaupun
tidak langsung terhadap objek yang diteliti (Susilo Rahardjo & Gudnanto,
2011).
Menurut Susilo Surya dan Natawidjaja ( dalam Susilo
Rahardjo & Gudnanto, 2011: 48-49) membedakan observasi menjadi observasi
partisipatif, observasi sistematis, dan observasi experimental.
Observasi partisipatif, ialah observasi dimana orang yang
mengobservasi (pengamat, observer) benar-benar turut serta mengambil bagian
dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang atau objek yang diamati.
Observasi sistematis, ialah observasi dimana sebelumnya
telah diatur struktur yang berisikan faktor-faktor yang telah diataur
berdasarkan kategori masalah nyang hendak diobservasi. Pada observasi
sistematis ini sebelumnya pengamat menyusun kisi-kisi yang memuat faktor-faktor
yang akan diobservasi beserta kategori masalahnya.
Obsevasi eksperiental, ialah observasi yang dilakukan
secara nonpartisipatif dan secara sistematis, untuk mengetahui
perubahan-perubahan atau gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja
diadakan.
Daftar
pustaka
Evaluasi Pengajaran.Bandung: Remaja Rosdakayra.
Sudjana,
Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Daryanto.
1997. Evaluasi Pendidikan. Solo: Rineka Cipta.
Djiwandon, Sri Esti W. (2004). Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta:
Gramedia
Djaali & Mulyono, Pudji. (2007). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan.Jakarta:
Grasindo
Masidjo, Ign. (1995). Penilaian
Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogjakarta: Kanisius.
Rahardjo, Susilo & Gudnanto. (2011) Pemahaman Individu
(teknik Non Tes). Kudus:
Purwanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar