Rabu, 09 Juni 2021

Karakteristik Pembentukan Karakter Siswa






 

 Nama : Muhammad irfan

Kelas : PAI 4 A
NIM  : 11901170
MAKUL : MAGANG 1 

DOSEN PENGAMPU : Farninda Aditya, M.Pd

Karakter adalah ciri khas perilaku seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Karakter merupakan hasil interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Karakter yang melekat pada siswa tentu dipengaruhi oleh interaksi antara siswa satu dan lainnya, antara siswa dan guru, antara siswa dan lingkungan sekolah.

 

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyalurkan banyak sekali dana untuk melatih guru-guru profesional dalam menerapkan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Pelatihan itu nantinya diharapkan mampu memperbaiki karakter siswa yang mudah sekali tergerus dengan perkembangan zaman

 

Pembentukan karakter siswa adalah upaya yang dilakukan untuk membentuk karakter siswa sesuai nilai-nilai yang telah dirumuskan. Pembentukan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga orang tua dan diri siswa sendiri.

Pada hakikatnya mengajar tidak hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi dimaknai juga sebagai proses pembentukan karakter. Pembentukan karakter terbaik pada siswa menjadi hal yang sangat penting karena siswa merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan eksistansi bangsa. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter siswa. Sebagai sebuah lembaga, sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik siswa agar pintar, cerdas, serta memiliki karakter positif sebagaimana diharapkan setiap orangtua. Menurut Lickona sebagaimana yang dikutip oleh Suyadi menjelaskan bahwa, pendidikan karakter mencakup tiga unsur pokok yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) (Suyadi, 2013:6).

 

Pembentukan dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk.

Karakter diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Sehingga orang yang berkarakter adalah orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak tertentu, dan watak tersebut yang membedakan dirinya dengan orang lain (Suyadi, 2013:5).

Jika ditinjau dari Bapak/Ibu sebagai tenaga pendidik, pembentukan karakter siswa bisa dilakukan dengan cara berikut.

 

1. Pembentukan karakter siswa terpadu dengan pembelajaran

Pembentukan karakter siswa bisa dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran dan berlaku untuk semua mata pelajaran.  Hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter diimplementasikan secara bersamaan saat Bapak/Ibu mengajar. Misalnya, Bapak/Ibu menerapkan kedisiplinan dalam pengumpulan tugas, kejujuran dan mandiri saat ujian, tanggung jawab akan tugas yang diberikan, dan seterusnya.

 

2. Pembentukan karakter siswa terpadu dengan manajemen sekolah

Manajemen sekolah menjadi kunci utama kesuksesan sekolah dalam mengendalikan semua warganya. Di dalam manajemen sekolah harus ada pengendali agar output yang dihasilkan sejalan dengan tujuan. Untuk membentuk karakter siswa unggul, pihak sekolah harus menanamkan itu melalui manajemennya, misal penilaian, sumber daya manusia, sarana prasarana, administrasi, dan sebagainya.

 

3. Pembentukan karakter siswa melalui kesiswaan

Karakter siswa bisa dibentuk melalui konseling oleh bagian kesiswaan. Bimbingan konseling yang dilakukan kesiswaan bisa memetakan bakat, potensi, cita-cita, dan kebutuhan setiap siswa. Dengan cara itulah pihak kesiswaan diharapkan mampu mengarahkan siswa dalam bersikap, sehingga sesuai dengan nilai-nilai karakter yang dikehendaki

 

Karakter siswa bisa dibentuk sedikit demi sedikit melalui pembinaan. Pembinaan karakter wajib ada di suatu instansi pendidikan karena di sanalah para siswa ditempa menjadi manusia berpendidikan dan bermartabat. Contoh program pembinaan karakter siswa adalah sebagai berikut.

 

1. Berdoa sebelum memulai dan menyelesaikan pembelajaran

Sebagai guru, Bapak/Ibu harus mampu menekankan pentingnya berdoa sebelum dan setelah pembelajaran. Saat berdoa, mereka pasti akan meminta pada Tuhan Yang Maha Esa agar dimudahkan dan diberkahi proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Nilai karakter yang ditanamkan melalui berdoa ini adalah nilai religius.

 

2. Mengadakan kegiatan Pramuka

Biasanya, Pramuka diadakan seminggu sekali. Kegiatan ini diharapkan mampu membina karakter siswa karena di dalamnya siswa akan diajarkan tentang bagaimana menjadi individu yang tanggung jawab, disiplin, mandiri, bekerja keras, dan sebagainya. Tidak hanya itu, kegiatan Pramuka yang cukup beragam bisa dimanfaatkan untuk menjalin persahabatan lebih erat,  baik dari pembina maupun peserta.

 

3. Mengadakan kegiatan Palang Merah Remaja (PMR)

Saat mengikuti kegiatan PMR, siswa akan dilatih untuk cekatan, tanggung jawab, disiplin, mampu bekerja dalam tim, toleransi, dan sebagainya.

 

4. Latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS)

Contoh program pembinaan karakter siswa selanjutnya adalah LDKS. Latihan dasar kepemimpinan ini biasanya dilakukan untuk melantik suatu kepengurusan organisasi, misalnya OSIS. Di dalam program ini, terdapat beberapa kegiatan yang sangat membantu siswa, misalnya seminar kepemimpinan, praktik kepemimpinan, outbond, dan sebagainya. Setelah program ini selesai, diharapkan siswa mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

5. Mengadakan lomba kebersihan kelas

Lomba kebersihan kelas bisa memacu  semangat siswa untuk bergotong-royong mengondisikan kelas sebersih mungkin. Untuk mewujudkannya, setiap anggota harus bertanggung jawab mengemban tugasnya masing-masing. Hal ini tentu bisa melatih kerja sama, tanggung jawab, kepedulian akan lingkungan , dan sebagainya.

 

6. Mengadakan kegiatan keagamaan secara rutin

Kegiatan keagamaan merupakan kegiatan spiritual yang bisa memberikan sentuhan positif pada siswa. Melalui kegiatan keagamaan, siswa akan tahu mana perbuatan yang diizinkan agama dan mana yang tidak. Tidak hanya itu, kegiatan keagamaan juga bisa melatih kedisiplinan dan kepedulian siswa, contohnya sholat dan sedekah. Kegiatan keagamaan bisa dilakukan dengan mengadakan sholat dzuhur berjamaah, tausiyah singkat, dan sedekah.

 

Pembentukan dan pembinaan karakter siswa bisa membuahkan hasil jika ada kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, dan lingkungan siswa itu sendiri. Sebagai pendidik, Bapak/Ibu tentu sudah melakukan yang terbaik. Bagaimanapun, siswa merupakan aset penerus bangsa ini yang harus tetap diperjuangkan masa depannya.

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah merumuskan nilai apa saja yang seharusnya menjadi karakter siswa. Nilai yang dimaksud adalah sebagai berikut.

 

Religius, artinya kepatuhan siswa pada nilai-nilai agama. Nilai agama merupakan nilai yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga secara otomatis nilai itu bisa mengontrol perilaku seseorang.

Jujur, artinya perilaku yang selalu sesuai antara perbuatan dan perkataan. Nilai kejujuran wajib melekat pada siswa agar mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang dapat dipercaya oleh semua orang.

Toleransi, artinya kelapangan dalam menghadapi perbedaan, baik agama, suku, ras, warna kulit, dan sebagainya.

Disiplin, artinya tertib pada aturan yang telah ditetapkan. Kedisiplinan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mengikuti aturan yang telah ditetapkan pada siswa.

Kerja keras, artinya upaya yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-cita belajarnya.

Kreatif, artinya perilaku atau cara berpikir untuk menciptakan kreasi atau produk baru.

Mandiri, artinya perilaku siswa yang tidak mudah bergantung pada orang lain, misalnya saat mengerjakan tugas tidak pernah mencontek.

Demokratis, artinya perilaku yang menempatkan kesetaraan hak dan kewajiban antara siswa dan orang lain.

Rasa ingin tahu, artinya pemikiran mendalam akan suatu permasalahan yang pernah dipelajari, dilihat, maupun ditemuinya.

Semangat kebangsaan, artinya kesadaran akan pentingnya menjaga bangsa dan meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

Cinta tanah air, artinya kepedulian siswa pada tanah air tercinta. Hal itu bisa ditunjukkan dengan prestasi yang nantinya bisa mengharumkan nama bangsa.

Menghargai prestasi, artinya kemampuan siswa untuk menghargai keberhasilan orang lain dan menjadikan itu dorongan agar dirinya juga bisa berhasil.

Bersahabat/komunikatif, artinya perilaku yang ditunjukkan dengan keluwesan siswa dalam berkomunikasi, bergaul.

Betapa pentingnya peran yang dimiliki, sehingga guru dinilai sebagai sosok berpendidikan yang diharapkan mampu mendidik anak bangsa untuk masa depan. Membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter Indonesia.

 

Guru tidak sekedar mendidik dan memberikan materi akademik saja di sekolah, namun lebih dari itu. Guru diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai positif pada siswa, karena guru merupakan role model bagi para siswanya.

 

Untuk mendukung hal ini, para guru seyogyanya mengokohkan karakter dirinya dalam membangun karakter para siswanya. Ada beberapa hal sederhana dapat dilakukan para guru dalam membangun karakter siswa.

 

1. Menjadi contoh bagi siswa

 

Guru dipandang sebagai orang tua yang lebih dewasa oleh para siswanya. Hal itu artinya, siswa menilai guru sebagai contoh dalam bertindak dan berperilaku. Hal ini menuntut guru harus pandai dalam menjaga sikap dan perilaku guna memberikan contoh terbaik.

 

Dengan mengingat diri sendiri sebagai contoh, maka guru akan lebih berhati-hati dalam bersikap, sehingga lebih bijak dari setiap tindakan yang akan diambil. Dari memberikan contoh, diharapkan murid bisa mengikuti sisi positif yang dimiliki guru.

 

2. Menjadi apresiator

 

Sebagai guru hendaknya tidak hanya sekedar mementingkan nilai akademis, tetapi juga mengapresiasi usaha siswanya. Sebagai pengajar, menilai siswa dari segi akademis memang penting, namun juga perlu diingat bahwa menghargai kebaikan yang dilakukan siswa juga sangat perlu.

 

Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan mengapresiasi usaha siswa tanpa selalu membandingkan dengan nilai yang didapatkan. Misalnya dengan memberikan pujian bagi siswa datang awal, rajin mengerjakan tugas, atau bersikap baik selama di sekolah.

 

 

Dengan membiasakan hal kecil seperti itu, siswapun akan dapat mengapresiasi diri atas usaha yang telah dilakukannya. Sehingga, akan terbangun karakter yang terus mau belajar dan memperbaiki diri untuk lebih baik.

 

3. Mengajarkan nilai moral pada setiap pelajaran

 

Kalau sekadar materi pelajaran, mungkin semua bisa saja tahu karena tertulis dalam buku pelajaran. Tetapi bagaimana dengan nilai moral? Untuk itu ada baiknya dalam setiap pelajaran, guru juga menanamkan nilai moral yang bisa dijadikan bahan pelajaran hidup.

 

Misalnya, saat mengajarkan Matematika guru tidak hanya sekadar memberikan rumus dan cara pengerjaan kepada siswa. Tetapi juga bisa mengajarkan nilai kehidupan seperti dengan mengerjakan soal Matematika kita bisa belajar untuk bersabar dan berusaha untuk memecahkan suatu masalah dengan mengasah logika berpikir.

 

Nah, dengan begitu, nantinya ketika siswa menghadapi suatu masalah dalam hidupnya, dia bisa berpikir optimis bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya selama berusaha.

 

4. Bersikap jujur dan terbuka pada kesalahan

 

Guru juga manusia, sehingga tidak luput dari suatu kesalahan meski tidak pernah berniat melakukan hal itu atau tanpa sengaja. Misalnya, suatu ketika guru datang terlambat, salah dalam mengoreksi jawaban siswa.

 

Untuk memberikan contoh yang baik, guru sebaiknya mau mengakui kesalahan yang dibuat sekecil apapun itu. Sehingga hal itu akan teringat dalam diri siswa untuk bersikap yang sama ketika melakukan kesalahan meski tidak disengaja.

 

Mungkin terkadang ada rasa gengsi, tetapi tetap harus dilakukan, karena itu bisa menjadi pelajaran yang baik pada siswa. Bahwa sebagai manusia kita harus berani jujur sama diri sendiri dan mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat.

 

SUMBER

academia.edu/

repo.iain-tulungagung.ac.id/

pena.belajar.kemdikbud.go.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar