Nama : Muhammad irfan
Karakter
adalah ciri khas perilaku seseorang yang membedakannya dengan orang lain.
Karakter merupakan hasil interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.
Karakter yang melekat pada siswa tentu dipengaruhi oleh interaksi antara siswa
satu dan lainnya, antara siswa dan guru, antara siswa dan lingkungan sekolah.
Pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyalurkan banyak sekali
dana untuk melatih guru-guru profesional dalam menerapkan pendidikan karakter
di lingkungan sekolah. Pelatihan itu nantinya diharapkan mampu memperbaiki
karakter siswa yang mudah sekali tergerus dengan perkembangan zaman
Pembentukan
karakter siswa adalah upaya yang dilakukan untuk membentuk karakter siswa
sesuai nilai-nilai yang telah dirumuskan. Pembentukan tersebut tidak hanya
menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga orang tua dan diri siswa
sendiri.
Pada
hakikatnya mengajar tidak hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi
dimaknai juga sebagai proses pembentukan karakter. Pembentukan karakter terbaik
pada siswa menjadi hal yang sangat penting karena siswa merupakan generasi
penerus yang akan melanjutkan eksistansi bangsa. Sekolah sebagai sebuah lembaga
pendidikan merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab terhadap
pembentukan karakter siswa. Sebagai sebuah lembaga, sekolah memiliki tanggung
jawab moral untuk mendidik siswa agar pintar, cerdas, serta memiliki karakter
positif sebagaimana diharapkan setiap orangtua. Menurut Lickona sebagaimana
yang dikutip oleh Suyadi menjelaskan bahwa, pendidikan karakter mencakup tiga
unsur pokok yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan
(desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) (Suyadi, 2013:6).
Pembentukan
dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk.
Karakter
diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dengan yang lain. Sehingga orang yang berkarakter adalah
orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak
tertentu, dan watak tersebut yang membedakan dirinya dengan orang lain (Suyadi,
2013:5).
Jika
ditinjau dari Bapak/Ibu sebagai tenaga pendidik, pembentukan karakter siswa
bisa dilakukan dengan cara berikut.
1.
Pembentukan karakter siswa terpadu dengan pembelajaran
Pembentukan
karakter siswa bisa dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran dan berlaku untuk
semua mata pelajaran. Hal-hal yang
berkaitan dengan nilai-nilai karakter diimplementasikan secara bersamaan saat
Bapak/Ibu mengajar. Misalnya, Bapak/Ibu menerapkan kedisiplinan dalam
pengumpulan tugas, kejujuran dan mandiri saat ujian, tanggung jawab akan tugas
yang diberikan, dan seterusnya.
2.
Pembentukan karakter siswa terpadu dengan manajemen sekolah
Manajemen
sekolah menjadi kunci utama kesuksesan sekolah dalam mengendalikan semua
warganya. Di dalam manajemen sekolah harus ada pengendali agar output yang
dihasilkan sejalan dengan tujuan. Untuk membentuk karakter siswa unggul, pihak
sekolah harus menanamkan itu melalui manajemennya, misal penilaian, sumber daya
manusia, sarana prasarana, administrasi, dan sebagainya.
3.
Pembentukan karakter siswa melalui kesiswaan
Karakter
siswa bisa dibentuk melalui konseling oleh bagian kesiswaan. Bimbingan
konseling yang dilakukan kesiswaan bisa memetakan bakat, potensi, cita-cita,
dan kebutuhan setiap siswa. Dengan cara itulah pihak kesiswaan diharapkan mampu
mengarahkan siswa dalam bersikap, sehingga sesuai dengan nilai-nilai karakter
yang dikehendaki
Karakter
siswa bisa dibentuk sedikit demi sedikit melalui pembinaan. Pembinaan karakter
wajib ada di suatu instansi pendidikan karena di sanalah para siswa ditempa
menjadi manusia berpendidikan dan bermartabat. Contoh program pembinaan
karakter siswa adalah sebagai berikut.
1.
Berdoa sebelum memulai dan menyelesaikan pembelajaran
Sebagai
guru, Bapak/Ibu harus mampu menekankan pentingnya berdoa sebelum dan setelah
pembelajaran. Saat berdoa, mereka pasti akan meminta pada Tuhan Yang Maha Esa
agar dimudahkan dan diberkahi proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Nilai karakter yang ditanamkan melalui berdoa ini adalah nilai religius.
2.
Mengadakan kegiatan Pramuka
Biasanya,
Pramuka diadakan seminggu sekali. Kegiatan ini diharapkan mampu membina
karakter siswa karena di dalamnya siswa akan diajarkan tentang bagaimana
menjadi individu yang tanggung jawab, disiplin, mandiri, bekerja keras, dan
sebagainya. Tidak hanya itu, kegiatan Pramuka yang cukup beragam bisa
dimanfaatkan untuk menjalin persahabatan lebih erat, baik dari pembina maupun peserta.
3.
Mengadakan kegiatan Palang Merah Remaja (PMR)
Saat
mengikuti kegiatan PMR, siswa akan dilatih untuk cekatan, tanggung jawab,
disiplin, mampu bekerja dalam tim, toleransi, dan sebagainya.
4.
Latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS)
Contoh
program pembinaan karakter siswa selanjutnya adalah LDKS. Latihan dasar
kepemimpinan ini biasanya dilakukan untuk melantik suatu kepengurusan
organisasi, misalnya OSIS. Di dalam program ini, terdapat beberapa kegiatan
yang sangat membantu siswa, misalnya seminar kepemimpinan, praktik
kepemimpinan, outbond, dan sebagainya. Setelah program ini selesai, diharapkan
siswa mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
5.
Mengadakan lomba kebersihan kelas
Lomba
kebersihan kelas bisa memacu semangat
siswa untuk bergotong-royong mengondisikan kelas sebersih mungkin. Untuk
mewujudkannya, setiap anggota harus bertanggung jawab mengemban tugasnya
masing-masing. Hal ini tentu bisa melatih kerja sama, tanggung jawab,
kepedulian akan lingkungan , dan sebagainya.
6.
Mengadakan kegiatan keagamaan secara rutin
Kegiatan
keagamaan merupakan kegiatan spiritual yang bisa memberikan sentuhan positif
pada siswa. Melalui kegiatan keagamaan, siswa akan tahu mana perbuatan yang
diizinkan agama dan mana yang tidak. Tidak hanya itu, kegiatan keagamaan juga
bisa melatih kedisiplinan dan kepedulian siswa, contohnya sholat dan sedekah.
Kegiatan keagamaan bisa dilakukan dengan mengadakan sholat dzuhur berjamaah,
tausiyah singkat, dan sedekah.
Pembentukan
dan pembinaan karakter siswa bisa membuahkan hasil jika ada kerja sama antara
pihak sekolah, orang tua, dan lingkungan siswa itu sendiri. Sebagai pendidik,
Bapak/Ibu tentu sudah melakukan yang terbaik. Bagaimanapun, siswa merupakan
aset penerus bangsa ini yang harus tetap diperjuangkan masa depannya.
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan sudah merumuskan nilai apa saja yang seharusnya
menjadi karakter siswa. Nilai yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Religius,
artinya kepatuhan siswa pada nilai-nilai agama. Nilai agama merupakan nilai
yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga secara otomatis nilai itu
bisa mengontrol perilaku seseorang.
Jujur,
artinya perilaku yang selalu sesuai antara perbuatan dan perkataan. Nilai
kejujuran wajib melekat pada siswa agar mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang
dapat dipercaya oleh semua orang.
Toleransi,
artinya kelapangan dalam menghadapi perbedaan, baik agama, suku, ras, warna
kulit, dan sebagainya.
Disiplin,
artinya tertib pada aturan yang telah ditetapkan. Kedisiplinan mampu
menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mengikuti aturan yang telah ditetapkan
pada siswa.
Kerja
keras, artinya upaya yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan
cita-cita belajarnya.
Kreatif,
artinya perilaku atau cara berpikir untuk menciptakan kreasi atau produk baru.
Mandiri,
artinya perilaku siswa yang tidak mudah bergantung pada orang lain, misalnya
saat mengerjakan tugas tidak pernah mencontek.
Demokratis,
artinya perilaku yang menempatkan kesetaraan hak dan kewajiban antara siswa dan
orang lain.
Rasa
ingin tahu, artinya pemikiran mendalam akan suatu permasalahan yang pernah
dipelajari, dilihat, maupun ditemuinya.
Semangat
kebangsaan, artinya kesadaran akan pentingnya menjaga bangsa dan meletakkan
kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Cinta
tanah air, artinya kepedulian siswa pada tanah air tercinta. Hal itu bisa
ditunjukkan dengan prestasi yang nantinya bisa mengharumkan nama bangsa.
Menghargai
prestasi, artinya kemampuan siswa untuk menghargai keberhasilan orang lain dan
menjadikan itu dorongan agar dirinya juga bisa berhasil.
Bersahabat/komunikatif,
artinya perilaku yang ditunjukkan dengan keluwesan siswa dalam berkomunikasi,
bergaul.
Betapa
pentingnya peran yang dimiliki, sehingga guru dinilai sebagai sosok
berpendidikan yang diharapkan mampu mendidik anak bangsa untuk masa depan.
Membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter Indonesia.
Guru
tidak sekedar mendidik dan memberikan materi akademik saja di sekolah, namun
lebih dari itu. Guru diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai positif pada
siswa, karena guru merupakan role model bagi para siswanya.
Untuk
mendukung hal ini, para guru seyogyanya mengokohkan karakter dirinya dalam
membangun karakter para siswanya. Ada beberapa hal sederhana dapat dilakukan
para guru dalam membangun karakter siswa.
1.
Menjadi contoh bagi siswa
Guru
dipandang sebagai orang tua yang lebih dewasa oleh para siswanya. Hal itu
artinya, siswa menilai guru sebagai contoh dalam bertindak dan berperilaku. Hal
ini menuntut guru harus pandai dalam menjaga sikap dan perilaku guna memberikan
contoh terbaik.
Dengan
mengingat diri sendiri sebagai contoh, maka guru akan lebih berhati-hati dalam
bersikap, sehingga lebih bijak dari setiap tindakan yang akan diambil. Dari
memberikan contoh, diharapkan murid bisa mengikuti sisi positif yang dimiliki
guru.
2.
Menjadi apresiator
Sebagai
guru hendaknya tidak hanya sekedar mementingkan nilai akademis, tetapi juga
mengapresiasi usaha siswanya. Sebagai pengajar, menilai siswa dari segi
akademis memang penting, namun juga perlu diingat bahwa menghargai kebaikan
yang dilakukan siswa juga sangat perlu.
Cara
sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan mengapresiasi usaha siswa tanpa
selalu membandingkan dengan nilai yang didapatkan. Misalnya dengan memberikan
pujian bagi siswa datang awal, rajin mengerjakan tugas, atau bersikap baik
selama di sekolah.
Dengan
membiasakan hal kecil seperti itu, siswapun akan dapat mengapresiasi diri atas
usaha yang telah dilakukannya. Sehingga, akan terbangun karakter yang terus mau
belajar dan memperbaiki diri untuk lebih baik.
3.
Mengajarkan nilai moral pada setiap pelajaran
Kalau
sekadar materi pelajaran, mungkin semua bisa saja tahu karena tertulis dalam
buku pelajaran. Tetapi bagaimana dengan nilai moral? Untuk itu ada baiknya
dalam setiap pelajaran, guru juga menanamkan nilai moral yang bisa dijadikan
bahan pelajaran hidup.
Misalnya,
saat mengajarkan Matematika guru tidak hanya sekadar memberikan rumus dan cara
pengerjaan kepada siswa. Tetapi juga bisa mengajarkan nilai kehidupan seperti
dengan mengerjakan soal Matematika kita bisa belajar untuk bersabar dan
berusaha untuk memecahkan suatu masalah dengan mengasah logika berpikir.
Nah,
dengan begitu, nantinya ketika siswa menghadapi suatu masalah dalam hidupnya,
dia bisa berpikir optimis bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya selama
berusaha.
4.
Bersikap jujur dan terbuka pada kesalahan
Guru
juga manusia, sehingga tidak luput dari suatu kesalahan meski tidak pernah
berniat melakukan hal itu atau tanpa sengaja. Misalnya, suatu ketika guru
datang terlambat, salah dalam mengoreksi jawaban siswa.
Untuk
memberikan contoh yang baik, guru sebaiknya mau mengakui kesalahan yang dibuat
sekecil apapun itu. Sehingga hal itu akan teringat dalam diri siswa untuk
bersikap yang sama ketika melakukan kesalahan meski tidak disengaja.
Mungkin
terkadang ada rasa gengsi, tetapi tetap harus dilakukan, karena itu bisa
menjadi pelajaran yang baik pada siswa. Bahwa sebagai manusia kita harus berani
jujur sama diri sendiri dan mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat.
SUMBER
academia.edu/
repo.iain-tulungagung.ac.id/
pena.belajar.kemdikbud.go.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar