Nama : Muhammad irfan
DOSEN PENGAMPU : Farninda Aditya, M.Pd
Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh
suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai
yang tercermin baik dalam ujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu
perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian
dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan
memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh
satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang
yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antargenerasi
tersebut.
Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur
tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan
landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien
dan efektif. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini
adalah Antropolog Clifford Geertz yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola
pemahaman terhadap fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun
implisit. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebu, kultur
sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap,
ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang
sekolah. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala
sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam
memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika
Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris. Kultur yang “sehat” memiliki
korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi,
b) sikap dan motivsi kerja guru, dan, c)
produktivitas dan kepuasan kerja guru. Namun demikian, analisis kultur sekolah
harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, sesuatu
yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam
kaitan dengan aspek yang lain, seperti, a) rangsangan untuk berprestasi, b)
penghargaan yang tinggi terhadap prestasi, c) komunitas sekolah yang tertib, d)
pemahaman tujuan sekolah, e) ideologi organisasi yang kuat, f) partisipasi
orang tua siswa, g) kepemimpinan kepala sekolah, dan, h) hubungan akrab di
antara guru. Dengan kata lain, dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa
meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung, melainkan lewat
berbagai variabel, antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk
berprestasi.
Pada dasarnya kualitas sebuah lembaga pendidikan bisa
dilihat dari sejauh mana keberhasilannya dalam meningkatkan kualitas mulai dari
kultur organisasi atau institusi. Khusus dalam lembaga pendidikan formal
seperti sekolah kultur yang dibangun adalah nilai-nilai atau norma-norma yang
dianut dari generasi ke generasi.
Peran kultur di sekolah akan sangat mempengaruhi perubahan
sikap maupun perilaku dari warga sekolah. Kultur sekolah yang positif akan
menciptakan suasana kondusif bagi tercapainya visi dan misi sekolah, demikian
sebaliknya kultur yang negatif akan membuat pencapaian visi dan misi sekolah
mengalami banyak kendala. Kultur sekolah yang baik misalnya kemauan menghargai
hasil karya orang lain, kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban,
motivasi untuk terus berprestasi, komitmen serta dedikasi kepada tanggungjawab.
Sedangkan kultur yang negatif misalnya kurang menghargai hasil karya orang
lain, kurang menghargai perbedaan, minimnya komitmen, dan tiadanya motivasi
berprestasi pada warga sekolah.
Berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia, juga
perlu diciptakan kultur yang baik. Pada semua tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan harus ada komunikasi dan kolaborasi yang apik sehingga mendukung
sebuah lembaga untuk terus berinovasi, untuk terus melakukan perubahan yang
positif, atau Tajdid dalam bahasa persyarikatan kita. Tenaga pendidik dan kependidikan
yang memiliki kultur yang baik akan meciptakan suasana pembelajaran kepada
peserta didik yang juga menyenangkan, dilakukan dengan kesungguhan dan sepenuh
hati.
Untuk siswa perlu ditingkatkan motivasi belajar dan
pentingnya kedisiplinan, kejujuran dan motivasi berprestasi sehingga kompetisi
antar siswa akan tercipta. Contoh kultur negatif yang masih sering dilakukan
siswa antara lain masih kurang diperhatikannya persoalan kedisiplinan, ini
terbukti dari angka keterlambatan yang cukup tinggi.
Budaya inovasi juga perlu ditingkatkan dalam semua elemen
dan warga sekolah. Misalnya saja guru harus membudayakan untuk terus berinovasi
dalam pembuatan media pembelajaran. Metode pembelajaran yang konvensional harus
diganti dengan metode baru yang kontemporer dan profesional tanpa meninggalkan
penekanan kepada makna dan kearifan lokal.
Penyebaran dan perkembangannya berproses seiring dengan
perkembangan kehidupan. Stolp dan Smith (1994 ) menyatakan budaya sekolah
berkembang bersamaan dengan sejarah sekolah. Wujudnya dalam bentuk norma,
nilai-nilai, keyakinan, tata upacara, ritual, tradisi, mitos yang dipahami oleh
seluruh warga sekolah. Karena perbedaan tingkat keyakinan, norma, dan
nilai-nilai yang diyakini oleh warga sekolah telah menyebabkan sekolah miliki
tradisi berbeda-beda.
Data menunjukkan meskipun terdapat beberapa sekolah yang
memiliki sumber keuangan yang sama besar, namun penampilan fisik dan
prestasinya berbeda. Lebih dari itu, bisa terjadi sekolah dalam satu kompleks,
didukung dengan lingkungan masyarakat yang sama, latar belakang pendidikan
kepala sekolah dan guru-gurunya sama, namun karena memiliki budaya sekolah yang
berbeda, iklim sekolah berbeda, maka prestasinya menjadi berbeda.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh pemahaman dan kepatuhan
warga sekolah terhadap norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang mereka junjung.
Makin kuat keyakinan dan kepatuhan warga terhadap norma dan nilai-nilai semakin
tinggi pula keterikatannya pada sekolah, semakin besar rasa memiliki, dan makin
kuat motif belajarnya.
Berkenaan dengan itu, Stolp dan Smith (1994: xiii)
menyatakan bahwa, bagaimanapun keadaannya, perubahan budaya lingkungan
sebenarnya menjadi tantangan yang berat. Sekolah berada dalam kondisi
ketidakpastian. Karena itu, sekolah memerlukan perhatian pimpinan yang cerdas,
yang pandai memecahkan masalah yang kompleks pada gelombang perubahan yang
arahnya serba tidak pasti.
Pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan
kinerja sekolah akan lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan
struktural (Sastrapratedja Dinamika Pendidikan, 2001:1). Pendekatan budaya
dengan pusat perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence)
menekankan pengubahan pada pikiran, kata-kata, sikap, perbuatan, dan hati
setiap warga sekolah. Pendekatan budaya dalam rangka pengembangan budaya
sekolah dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan atau orientasi :
1. Pembentukan
tim kerja dari berbagai unsur dan jenjang untuk saling berdialog dan
bernegosiasi. Tim ini terdiri dari pimpinan sekolah, guru, konselor, karyawan
administrasi.
2. Berorientasi
pada pengembangan visi. Pendekatan visioner menekankan pandangan kolektif
mengenai yang ideal.
3. Hubungan
kolegial. Melalui kolegialitas tim, akan muncul bagaimana sikap saling
menghargai dan memperkuat identitas kelompok, bersama-sama dan saling
mendukung.
4. Kepercayaan
dan dukungan. Saling percaya (trust) dan dukungan (support) adalah esensial
bagi bekerjanya organisasi. Tim dapat bekerja secara sinergis dan dinamik jika
dua unsure tersebut ada.
5. Nilai dan
kepentingan bersama. Tim harus dapat mendamaikan berbagai kepentingan. Menjadi
tugas pimpinan untuk merekonsiliasikan kepentingan.
6. Akses pada
informasi. Mereka yang bekerja dalam organisasi hanya akan dapat menggunakan
kemampuannya secara efektif jika mereka dapat memperoleh akses pada informasi
yang dibutuhkan.
7. Pertumbuhan
sepanjang hidup. Lifelong learning dibutuhkan dalam dalam dunia yang berubah
dengan pesat.
Berikut beberapa kegiatan yang dapat dilakukan sebagai
upaya untuk menghidupkan kultur kelas/sekolah yang kondusif bagi pendidikan
nilai di sekolah :
1. Hadapi
masalah/Problem Solving
Murid diajak berdiskusi untuk memecahkan suatu maslaah
konkrit.
2. Reflective
Thinking/Critical Thinking
Murid secara pribadi atau kelompok diajak untuk membuat
catatan refleksi atau tanggapan atas suatu artikel, peristiwa, kasus, gambar,
foto, dan lain-lain.
3. Dinamika
kelompok (Group Dynamic)
Murid banyak dilibatkan dalam kerja kelompok secara
kontinyu untuk mengerjakan suatu proyek kelompok.
4. Membangun
suatu komunitas kecil (Community Building)
Murid satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau
masyarakat mini dengan tatanan dan tugas-tugas yang mereka putuskan bersama
secara demokratis.
5. Membangun
sikap bertanggung jawab (Responsibility Building)
Murid diserahi tugas atau pekerjaan yang konkrit dan
diminta untuk membuat laporan sejujur-jujurnya.
Pada sumber lain, dijelaskan pula bahwa banyak sekali
nilai-nilai sosial budaya yang harus dibangun di sekolah, karena sekolah adalah
ibarat taman yang subur tempat menanam benih-benih nilai-nilai sosial budaya
tersebut. Contoh nilai-nilai sosial budaya yang harus ditanam pada masyarakat
sekolah sekolah
1. Kebiasaan
menjaga kebersihan.
2. Etika. Adalah
tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. Kita hidup tidak
sendirian, dilahirkan oleh dan dari orang lain dan kemudian hidup bersama
dengan orang lain. Oleh karena itu, kita harus hidup beretika, menghormati diri
sendiri dan orang lain.
3. Kejujuran.
Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur, mulai jujur kepada dirinya
sendiri, jujur kepada Tuhan, jujur kepada orang lain.
4. Kasih sayang.
Mengutip pandangan guru besar IKIP Surabaya, yang menyatakan bahwa ada tiga
landasan pendidikan yang harus dibangun, yaitu (1) kasih sayang, (2)
kepercayaan, dan (3) kewibawaan. Menurut beliau, kasing sayang telah melahirkan
kepercayaan dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan.
5. Mencintai
belajar. Learning how to learn, ternyata akan jauh lebih penting ketimbang
bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu.
Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada
menghafalkan fakta dan data.
6. Bertanggung
jawab. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. Itulah sebabnya
maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga
pendidikan sekolah, bahkan dari keluarga.
7. Menghormati hukum dan peraturan. Sering kita
menghormati hukum dan peraturan karena takut kepada para penegak hukum. Kita
mematuhi hukum dan perundang-undangan karena takut terhadap ancaman hukuman.
Seharusnya, kita mengormati hukum dan peraturan atas dasar kesadaran bahwa
hukup dan peraturan itu adalah kita buat untuk kebaikan hidup kita. Tantangan
utama kepala sekolah dalam mengembangkan budaya sekolah adalah membangun
suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi
yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah. Komunikasi
dan interaksi yang sehat memilki dua indikator yaitu tingkat keseringan dan
kedalaman materi yang dibahas. Di samping itu, kepala sekolah perlu
mengembangkan komunikasi multi arah untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya
secara optimal.
Daftar
pustaka
Sairin,
Sjafri. 2003. Kultur Sekolah dalam Era Multikultural. Makalah Seminar
Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Pengembangan Kultur Sekolah, Pascasarjana,
UNY, 12 Juni.
Vembriarto,
St. 1993. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Grasindo
http://ayouk91.blogspot.com/2010/06/membangun-kultur-sekolah-dan-masyarakat.html
http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/masyarakat-dan-kebudayaan-sekolah/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar